Jumat, 12 Desember 2014

Orang Berengsek Guru Sejati oleh Gede Prama

Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang
saya untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With Difficult  People.
Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian  tertarik dan tekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan niat untuk sesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit seperti keras kepala, suka menghina, menang   sendiri,  tidak mau kerja sama dll.

Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat manusia sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang menemui saya menganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar  sana sebagian adalah manusia sulit.

Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri
Untuk  memecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkan
perilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku  mereka  seperti keras kepala, menang sendiri, dll - dan kemudian saya tanya  apakah  itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian dari mereka hanya  tersenyum kecut.

Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan kaca mata terlebih dahulu, sebelum melihat orang lain. Dalam banyak  kasus, karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata maka orangpun  kelihatan  kotor. Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit,
Yakinlah  kalau  bukan Anda sendiri yang sulit. Karena Anda amat keras kepala, maka
Orang berbeda pendapat sedikitpun jadi sulit. Karena Anda amat mudah
tersinggung, maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat  Anda jadi kesal.

Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalam keadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin  mengajak Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit. Dengan  meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah guru
kehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit.
Terutama  karena beberapa alasan.


Pertama,
manusia super sulit sedang mengajari kita dengan  menunjukkan betapa menjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat  dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain.
Semakin   sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang  semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu.
Saya berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan
suka menghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak
mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak. Sekarang,  bayangan tentang anak kecil yang kasar dan suka menghina, menjadi inspirasi  yang amat membantu pendidikan anak-anak di rumah. Sebab, saya pernah  merasakan sendiri betapa sakit hati dan tidak enaknya dihina anak kecil.


Kedua,
manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat  kita  jadi  orang sabar. Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini  seperti  karet.



Pertama ditarik  melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan  longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas  kepala, mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit,  itu berarti kita sedang menarik karet ini (baca : tubuh dan jiwa  ini)   menjadi lebih longgar (sabar).

Saya pernah mengajar sekumpulan  anak-anak  muda yang tidak saja amat pintar, namun juga amat rajin mengkritik. Setiap di depan kelas saya diuji, dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya  memang  membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi  kebal.

Seorang anggota keluarga yang mengenal latar belakang masa kecil  saya,  pernah heran dengan cara saya menangani hujatan-hujatan orang lain. Dan gurunya ya itu tadi, manusia-manusia pintar tukang hujat di atas.


Ketiga,
manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan.  Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia  sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya  kontribusinya. Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi
pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti  membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya  menjadi jauh lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral  yang amat keras dan diktator.


Ke-empat,
Disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi  kita  menjadi orang dewasa. Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu  saja  kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi,
Betapa  tidak enaknya dihina orang lain.


Kelima,
Dengan sedikit rasa dendam yang positif manusia super sulit  sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat. Di masa kecil, saya termasuk orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian,
Kalau  ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa
Besar dan hebatnya diri ini rasanya, kalau berhasil membantu orang yang tadinya
menghina kita.


Terakhir dan yang paling penting,
Manusia super sulit sebenarnya  menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga.

Pasalnya, kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman,  batu dengan bunga,
bau busuk dengan bau harum 
maka  : “ Jalan masuk ke  Surga akan menjadi lebih lebar   




 

0 komentar:

Posting Komentar

Popular